Senin, 26 Januari 2026

Mengelola Perasaan Hampa di Tengah Keramaian

Berita Terkait

Ilustrasi orang yang memiliki teman, tetapi merasa kesepian dan hampa. (Freepik)

batampos – Meski dikelilingi oleh orang, banyak orang tetap merasakan kekosongan batin. Perasaan hampa di tengah keramaian bukan sekadar bosan, melainkan bisa jadi tanda disconnect dari diri sendiri dan kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Saat berada di antara banyak orang, seseorang bisa saja merasa seperti “menjadi kosong” karena tidak merasakan ketulusan, makna atau ikatan emosional.

Menurut Psych Central, Dr. Sarah Slight menyebut bahwa merasa kosong adalah sinyal untuk kembali mengenali emosi diri.

Salah satu praktik yang disarankan adalah meluangkan waktu sendiri setiap hari untuk eksplorasi batin, menulis jurnal, meditasi, atau bereksperimen dengan olahraga ringan, yang dapat mereduksi perasaan kosong dari dalam, bahkan ketika berada dalam keramaian.

Tanda Kamu Merasakan Kekosongan di Tengah Keramaian

-Sulit menyebutkan apa yang kamu rasakan
Kamu mungkin merasa dingin, terpisah, atau kosong tanpa bisa menjelaskannya.

-Mudah bosan padahal banyak interaksi sosial
Bahkan saat ngobrol dengan banyak orang, kamu tetap merasa ada yang hilang dari koneksi itu.

-Sensasi ketidakbermaknaan dalam aktivitas
Keramaian atau acara terasa seperti rutinitas kosong tanpa nilai yang dirasakan diri sendiri.

-Kesulitan mengalami kesenangan atau kegembiraan
Tanpa sebab jelas kamu merasa tidak menikmati apa pun, termasuk hiburan atau kebersamaan.

Dr. Slight menjelaskan bahwa hampa batin sering muncul karena seseorang kehilangan kontak dengan emosi dasar dan nilai diri. Tanpa refleksi atau waktu menyendiri yang cukup, kita jadi mengabaikan “kompas batin” kita sendiri. Perasaan kosong kemudian muncul sebagai alarm internal bahwa kita belum “bertemu” kembali dengan diri sejati kita.

Strategi Mengelola Kekosongan di Keramaian

1. Sisihkan waktu “me-time” harian

Cobalah meluangkan beberapa menit tiap hari untuk journal singkat atau meditasi ringan, walau hanya lima menit saja, ini dapat membantu kamu lebih sadar terhadap emosi mendasar yang tersembunyi.

2. Identifikasi emosi melalui introspeksi

Gunakan timer lima menit untuk memindai apa saja yang dirasakan tubuh secara fisik, tegang, dingin, hangat, dan catat satu kata perasaan yang menggambarkannya: misalnya “kesepian”, “penasaran”, atau “hampa”.

3. Bangun koneksi bermakna dan bukan hanya jumlah

Fokuslah pada interaksi yang mendalam: berbicara satu lawan satu dengan teman dekat atau keluarga, bukan sekadar hadir di kerumunan orang yang tidak kamu kenal dalam hati.

4. Praktik self-care fisik dan mental sehari-hari

Tidur cukup, makan bergizi, olahraga ringan, serta mengurangi waktu layar, semua ini memberi fondasi stabilitas emosional untuk menghadapi kekosongan batin.

5. Cari makna melalui kegiatan yang bermakna atau tujuan kecil setiap hari

Mengatur bahkan satu tujuan sederhana (misalnya membaca bab buku, menulis ide kreatif) bisa memberi dorongan bahwa hidup tetap berjalan dengan arti.

6. Pertimbangkan dukungan profesional jika perlu

Bila perasaan kosong berlangsung lama dan mengganggu fungsi sehari-hari, konsultasi psikolog atau psikoterapis seperti pendekatan kognitif‑behavioral atau terapi eksistensial bisa sangat membantu. (*)

SourceJPGroup

Update