Senin, 26 Januari 2026

Ini 8 Tren Generasi Boomer yang Akan Kembali Eksis

Berita Terkait

Ilustrasi perempuan berusia pensiun kini berkebun. (pexels)

batampos – Di tengah derasnya kemajuan teknologi dan maraknya gaya hidup serba instan, muncul fenomena tak terduga: generasi muda mulai jatuh cinta pada hal-hal yang dulu dianggap kuno, lambat, bahkan membosankan.

Apa yang dulu menjadi rutinitas menyenangkan bagi generasi boomer kini justru menemukan jalannya kembali ke pusat tren gaya hidup modern.

Ada kerinduan akan hal-hal sederhana, kehangatan aktivitas manual, dan kedekatan yang nyata, sesuatu yang tak bisa digantikan oleh layar atau notifikasi digital.

Dari kegiatan menyemai benih hingga menulis dengan tangan, aktivitas-aktivitas klasik kini kembali mencuri perhatian dan menjadi simbol keseimbangan di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat.

Dilansir dari Geediting, inilah delapan kegiatan lawas yang dulu akrab di kalangan generasi boomer dan kini mulai digemari kembali oleh generasi masa kini karena kesederhanaan dan ketulusan nilai yang dibawanya.

1. Berkebun: Saat Jempol Hijau Menjadi Meditasi

Kegiatan berkebun yang dulunya menjadi hobi favorit para boomer kini justru mengalami kebangkitan.

Di tengah stres kehidupan modern, berkebun menjadi pelarian yang menyembuhkan.

Tak hanya sekadar menanam bunga atau sayuran, aktivitas ini kini dinilai sebagai bentuk terapi jiwa yang ampuh.

Generasi muda mulai menyadari bahwa merawat tanaman bukan sekadar soal hasil panen, tapi tentang kesabaran, perhatian, dan ikatan dengan alam.

Mereka menciptakan kebun kecil di balkon, menyusun pot di jendela apartemen, bahkan berburu tanaman langka sebagai koleksi. Berkebun tak lagi tua, tapi trendi dan sangat menyenangkan.

2. Kerajinan DIY: Ketika Tangan Menjadi Sarana Ekspresi Diri

Do It Yourself (DIY) atau membuat kerajinan tangan sendiri dulu lekat dengan gaya hidup boomer yang suka membuat sendiri hiasan rumah, baju rajut, atau pernak-pernik sederhana.

Kini, aktivitas ini kembali dilirik oleh kalangan muda yang haus akan aktivitas kreatif yang nyata.

Membuat lilin aromaterapi, merajut syal, mengecat pot tanaman, bahkan membuat sabun organik sendiri menjadi pilihan banyak orang untuk mengurangi screen time.

Kegiatan ini bukan hanya melepas penat, tapi juga menghadirkan rasa bangga karena menciptakan sesuatu dengan tangan sendiri. DIY telah menjadi wujud perlawanan terhadap budaya instan.

3. Membaca Buku: Kembali Menyatu dengan Imajinasi

Di era audiobook dan konten singkat, kegiatan membaca buku fisik justru menemukan penggemar barunya.

Generasi muda mulai meninggalkan layar sejenak dan kembali merasakan sensasi membalik halaman, mencium aroma kertas, dan tenggelam dalam kisah panjang.

Membaca bukan lagi aktivitas yang dianggap ketinggalan zaman, tapi menjadi simbol dari kedalaman, ketenangan, dan kualitas hidup.

Tak sedikit yang membuat komunitas baca, klub buku online, hingga membuat ulasan di media sosial.

Kecintaan pada kata-kata tertulis seolah membuktikan bahwa ada rindu pada pengalaman intelektual yang lebih intim dan personal.

4. Mainan Papan: Keseruan yang Lebih dari Sekadar Nostalgia

Monopoli, Scrabble, Uno, Ludo, nama-nama ini pernah merajai malam keluarga generasi boomer.

Kini, permainan papan kembali naik daun sebagai alternatif hiburan yang lebih interaktif dan menyenangkan.

Generasi muda mulai menjadikan board game night sebagai acara rutin, bahkan menjadikannya sarana mempererat hubungan sosial.

Di tengah dunia digital yang membuat semua orang sibuk dengan layar masing-masing, permainan papan mengajak untuk duduk bersama, tertawa, berdiskusi, bahkan saling bersaing dengan sehat.

Ini bukan sekadar permainan, tapi sarana menciptakan koneksi yang nyata.

5. Memasak Sendiri: Menemukan Cinta dalam Dapur

Dulu, memasak adalah keterampilan dasar yang wajib dimiliki para boomer.

Kini, generasi muda pun mulai merasakan nikmatnya kembali ke dapur, menjelajah resep-resep lawas, dan menciptakan hidangan khas keluarga.

Memasak kini bukan lagi beban, melainkan kegiatan yang menghadirkan kebahagiaan.

Banyak yang menjadikan kegiatan ini sebagai terapi, ajang eksplorasi rasa, bahkan sebagai konten media sosial.

Resep nenek kini jadi harta karun yang diburu. Di dapur, setiap orang bisa jadi seniman yang bebas berkreasi dengan rasa dan ingatan.

6. Mengamati Burung: Pertunjukan Alam yang Tak Pernah Sama

Pengamatan burung yang dulu sering dilakukan oleh generasi boomer sebagai aktivitas akhir pekan, kini perlahan-lahan mendapat tempat di hati generasi muda.

Aktivitas ini memberikan sensasi tenang, fokus, dan rasa takjub terhadap keindahan ciptaan alam.

Tak perlu peralatan mahal, cukup duduk di taman, membawa teropong kecil, dan membuka mata terhadap dunia liar yang penuh warna.

Banyak yang kini menggunakan aktivitas ini sebagai sarana untuk bermeditasi, memperlambat ritme hidup, dan belajar menghargai hal-hal kecil yang sering terlewatkan.

7. Fotografi Manual: Menangkap Momen, Bukan Sekadar Gambar

Di era kamera digital dan ponsel canggih, kembali ke fotografi analog justru dianggap keren.

Banyak anak muda yang mulai tertarik dengan kamera film, mempelajari teknik dasar, dan menyukai kejutan dari hasil cetak yang tak bisa ditebak.

Fotografi manual dianggap lebih personal dan bermakna. Prosesnya yang lambat justru membuat orang lebih menghargai momen.

Bukan soal seberapa tajam hasil gambar, tapi tentang rasa yang terekam di dalamnya.

Foto kini bukan hanya untuk pamer, tapi menjadi kenangan yang sungguh hidup.

8. Menulis dengan Tangan: Membiarkan Kata-kata Mengalir dari Jiwa

Saat semua orang mengetik cepat di keyboard, sebagian justru kembali ke cara klasik, menulis dengan tangan.

Buku harian, jurnal, surat cinta, hingga puisi mulai kembali ditulis di atas kertas, bukan layar.

Menulis dengan tangan memiliki keintiman yang tak tergantikan. Setiap guratan mengandung perasaan, emosi, dan kehadiran.

Banyak yang menjadikan journaling sebagai kebiasaan harian untuk refleksi diri, mencatat mimpi, atau merapikan pikiran yang semrawut.

Kata-kata yang ditulis bukan sekadar huruf, tapi jembatan antara pikiran dan perasaan yang jujur. (*)

SourceJPGroup

Update