Selasa, 27 Januari 2026

5 Kebiasaan Kecil Orang Kelas Menengah Bawah yang Bikin Mustahil Meraih Kesuksesan Finansial

Berita Terkait

Ilustrasi mengatur keuangan. (ANTARA/freepik.com/wirestock)

batampos – Banyak orang tumbuh di lingkungan yang bisa dibilang kelas menengah ke bawah. Bukan hidup dalam kemiskinan ekstrem, tapi juga jauh dari kata nyaman.

Kalau ditelusuri lebih dalam, ada kebiasaan-kebiasaan tertentu yang terlihat wajar tapi sebenarnya menjadi penghalang menuju kesuksesan sejati.

Bukan hal klise seperti “tidak bekerja keras” atau “malas-malasan”. Justru sebaliknya, ini adalah kebiasaan yang sering dilakukan tanpa sadar. Terlihat masuk akal, tapi sebenarnya diam-diam menyabotase potensi.

Dilansir dari VegOut, berikut lima kebiasaan yang tampak biasa tapi bisa membuat seseorang terjebak dalam kehidupan yang begitu-begitu saja. Beberapa mungkin terasa familier dan itu justru pertanda baik.

1. Mengabaikan literasi keuangan

Ada satu fakta menarik yang perlu dipahami: orang dengan literasi keuangan rendah cenderung sangat takut ambil risiko. Mereka lebih nyaman menyimpan uang di tabungan atau deposito, daripada berinvestasi.

Sementara mereka yang lebih paham keuangan justru merasa nyaman menaruh uangnya di saham, properti, dan bentuk investasi lain yang lebih berani.

Dan, siapa yang biasanya punya literasi keuangan rendah? Anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Ini seperti siklus yang berulang karena topik uang jarang dibahas secara mendalam di rumah.

Kalimat seperti “uang tidak tumbuh di pohon” atau “kita tidak mampu” sudah jadi mantra sehari-hari. Jarang ada pembicaraan soal bagaimana membangun kekayaan, cara investasi, atau strategi membuat uang bekerja untukmu.

Padahal, faktanya sederhana: kalau kamu tidak memahami uang, uang juga tidak akan “memahami” kamu. Kabar baiknya? Belajar soal keuangan sekarang jauh lebih mudah dari sebelumnya.

2. Membiarkan tekanan finansial mengaburkan penilaian

Hidup dalam tekanan finansial yang konstan bisa membuat siapa pun sulit berpikir jernih. Bahkan menurut penelitian, dampaknya setara dengan kehilangan semalam penuh tidur atau penurunan IQ hingga 13 poin. Serius.

Ketika kepala terus-menerus dipenuhi kecemasan soal tagihan, utang, atau kebutuhan sehari-hari, maka otak akan masuk mode bertahan. Dan dalam mode itu, kemampuan mengambil keputusan jangka panjang jadi tumpul.

Masalahnya bukan hanya kurang uang tapi juga kualitas keputusan yang dibuat saat stres berat.

Langkah awal yang penting? Sadar bahwa tekanan itu sedang mengaburkan pandangan. Baru setelah itu bisa mulai membangun kebiasaan membuat keputusan dengan kepala dingin, bukan dari tempat ketakutan.

3. Menganggap hidup dari gaji ke gaji itu wajar

Lebih dari 60% orang Amerika mengaku hidup dari satu gaji ke gaji berikutnya. Bahkan, sebagian besar dari mereka menghasilkan lebih dari $100.000 per tahun. Artinya, masalahnya bukan di jumlah uang tapi di pola pikir.

Ketika gaya hidup paycheck-to-paycheck dianggap sebagai “realita hidup”, maka secara tidak sadar, seseorang berhenti mencari jalan keluar. Tidak lagi mempertanyakan pengeluaran, mencari sumber penghasilan tambahan, atau berpikir soal membangun kekayaan.

Banyak yang berkata, “memang hidupnya begini,” atau “semua orang juga susah.” Tapi orang-orang sukses melihat kondisi ini sebagai sesuatu yang harus segera diatasi bukan diterima begitu saja.

4. Mengutamakan kepuasan instan daripada pembangunan jangka panjang

Ini jebakan yang sangat halus. Tidak selalu terlihat seperti kebiasaan buruk karena seringkali berbentuk pilihan-pilihan kecil yang tampaknya sepele.

Membeli sesuatu sekarang karena merasa “butuh hiburan”, padahal uang itu bisa ditabung atau diinvestasikan.

Menunda belajar skill baru karena lebih enak rebahan. Atau memilih yang nyaman sekarang, walaupun tahu itu mengorbankan kemajuan jangka panjang.

Orang sukses paham satu hal: menunda kesenangan sementara bisa membuka pintu kenyamanan yang lebih besar nanti.

Mereka rela merasa tidak nyaman hari ini agar bisa hidup tenang besok. Karena mereka tidak hanya berpikir soal “hari ini”, tapi juga “lima tahun dari sekarang.”

5. Meremehkan kemungkinan naik kelas sosial

Naik kelas sosial memang tidak mudah. Penelitian menunjukkan, anak dari keluarga berpenghasilan terbawah hanya punya peluang sekitar 7,5% untuk masuk ke kelompok teratas saat dewasa.

Namun, yang membuat situasi ini makin pelik adalah keyakinan bahwa angka tersebut bersifat mutlak. Banyak yang merasa, “orang seperti kita tidak bisa sampai ke sana.” Atau yang lebih halus: “memang bukan dunia kita.”

Ucapan seperti ini sering muncul sebagai bentuk perlindungan, agar tidak berharap terlalu tinggi dan kecewa. Tapi secara tidak sadar, itu juga menanamkan batasan yang membungkam ambisi sejak awal.

Padahal, orang-orang sukses tidak menutup mata pada statistik. Justru sebaliknya, mereka menjadikannya sebagai bahan bakar. Alih-alih berkata “itu tidak mungkin,” mereka bertanya, “bagaimana caranya menjadi bagian dari 7,5% itu?”

Kenyataan yang perlu diterima

Kebiasaan-kebiasaan ini tidak membuat seseorang menjadi gagal total, apalagi jahat. Bahkan, hampir semua orang pernah melakukannya. Tapi bedanya terletak di sini: apakah seseorang mampu menyadari dan mau mengambil tindakan?

Begitu pola-pola ini terlihat, akan sulit untuk tidak menyadarinya lagi. Dan saat sudah sadar, satu pertanyaan penting muncul: apa yang akan dilakukan selanjutnya?

Kesuksesan bukan tentang sempurna sejak awal. Tapi tentang keberanian untuk berubah meski terasa tidak nyaman. Latar belakangmu memang membentukmu, tapi bukan itu yang menentukan nasibmu. (*)

SourceJPGroup

Update