Senin, 26 Januari 2026

Peringatan Bulan Kesadaran Mata Kering, Ketika Mata Kering Jadi Alarm Tubuh: Waspadai Autoimun Sedini Mungkin

Berita Terkait

Dokter Spesialis Mata Kering dan Lensa Kontak, JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Niluh Archi, SpM (dr. Manda), dan Dokter Penyakit Dalam, JEC Eye Hospitals and Clinics, DR. Dr. Laurentius Aswin Pramono, M.Epid, SpPD-KEMD pada saat JEC Eye Talks: Dry Eye Awareness Month – Mata Kering: Alarm Autoimun? Kenali, Deteksi, dan Tangani Sejak Dini, di Jakarta (16/7). Gejala mata kering yang sering dianggap sepele ternyata bisa menjadi indikasi awal dari penyakit autoimun yang menyerang sistem kekebalan tubuh. JEC Eye Hospitals and Clinics mengajak masyarakat untuk lebih tidak menganggap sepele keluhan mata kering karena mata kering yang berkelanjutan bisa jadi merupakan indikasi masalah kesehatan sistemik yang perlu ditangani sejak dini. Melalui peringatan Bulan Kesadaran Mata Kering 2025, JEC mendorong pentingnya deteksi dini gejala mata kering sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

batampos— Gejala mata kering yang sering dianggap sepele ternyata bisa menjadi indikasi awal dari penyakit autoimun yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Berangkat dari kekhawatiran atas tingginya prevalensi mata kering di Indonesia serta kaitannya dengan gangguan sistemik serius, JEC Eye Hospitals and Clinics mengajak masyarakat untuk lebih waspada.

Melalui peringatan Bulan Kesadaran Mata Kering 2025, JEC mendorong pentingnya deteksi dini gejala mata kering sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

“Mata kering bukanlah sebuah kondisi ringan. Bagi sebagian pasien, mata kering justru bisa menjadi indikasi proses autoimun yang berlangsung diam-diam di dalam tubuh. Lewat Bulan Kesadaran Mata Kering yang konsisten JEC gaungkan, kami ingin masyarakat tidak mengabaikan keluhan mata kering. Sebab, bisa jadi keluhan tersebut mencerminkan masalah kesehatan sistemik yang perlu ditangani seawal mungkin,” ujar dr. Niluh Archi, SpM (dr. Manda), Dokter Spesialis Mata Kering dan Lensa Kontak, JEC Eye Hospitals and Clinics.

BACA JUGA: Manfaatkan Bahan-Bahan di Dapur, Ini 4 Cara Mengatasi Mata Panda Secara Natural dan Cepat

Sebuah studi menemukan 10 hingga 95% pasien dengan gangguan sistem imun mengalami mata kering. Sementara itu, American Academy of Ophthalmology menyebut 10% pasien dengan penyakit mata kering mengalami Sindrom Sjögren (SS) – yakni jenis autoimun kronis yang menyerang kelenjar air mata dan menyebabkan peradangan pada permukaan mata. Namun, dua pertiga dari kasus tersebut tidak terdiagnosis. Tanpa penanganan dini dan tepat, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti luka pada kornea, infeksi, bahkan gangguan penglihatan permanen.

Dokter Spesialis Mata Kering dan Lensa Kontak, JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Niluh Archi, SpM (dr. Manda) pada saat JEC Eye Talks: Dry Eye Awareness Month – Mata Kering: Alarm Autoimun? Kenali, Deteksi, dan Tangani Sejak Dini, di Jakarta (16/7). Mata kering bukanlah sebuah kondisi ringan. Bagi sebagian pasien, mata kering justru bisa menjadi indikasi proses autoimun yang berlangsung diam-diam di dalam tubuh.Dr. Manda mengajak agar masyarakat tidak mengabaikan keluhan mata kering. Sebab, bisa jadi keluhan tersebut mencerminkan masalah kesehatan sistemik yang perlu ditangani sedini mungkin.

Di Indonesia, prevalensi mata kering sendiri mencapai 27,5% hingga 30,6%, menjadikannya salah satu kondisi mata yang paling umum namun seringkali luput dari deteksi medis. JEC sendiri sepanjang dua tahun terakhir (2023-2025) telah melayani 72.000 pasien mata kering di seluruh cabang jaringannya. Terkait Sindrom Sjörgen, sayangnya Indonesia belum memiliki data spesifik mengenai mata kering akibat jenis autoimun ini. Kurangnya kesadaran dan minimnya edukasi membuat banyak pasien tidak menyadari bahwa gejala yang mereka alami bisa jadi merupakan sinyal dari kondisi sistemik yang lebih kompleks.

Autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya melindungi, justru menyerang jaringan sehat tubuh sendiri. Ketika ini terjadi pada kelenjar eksokrin, seperti kelenjar air mata, bisa menimbulkan peradangan kronis dan penurunan produksi air mata sehingga menyebabkan mata kering. Sindrom Sjögren menjadi salah satu contoh paling umum, yakni ketika sistem imun menyerang kelenjar penghasil air mata dan air liur, sehingga penderitanya bisa mengalami mata kering sekaligus mulut kering secara bersamaan. Selain Sindrom Sjögren, penyakit autoimun lain juga dapat memicu mata kering, antara lain lupus, rheumatoid arthritis (RA), dan scleroderma. Keempatnya dapat menyebabkan inflamasi sistemik yang turut berdampak pada permukaan mata.

DR. Dr. Laurentius Aswin Pramono, M.Epid, SpPD-KEMD, selaku Dokter Penyakit Dalam, JEC Eye Hospitals and Clinics menjelaskan “Dalam banyak kasus, gejala awal penyakit autoimun sering kali muncul dalam bentuk yang tidak spesifik.

Salah satunya, timbulnya mata kering. Karena itu, kolaborasi multidisiplin antara dokter mata dan dokter penyakit dalam menjadi sangat penting untuk mengenali pola-pola peradangan sistemik sejak dini. Melalui pemeriksaan mata yang teliti, pasien bisa diarahkan untuk evaluasi lebih lanjut yang mungkin menyelamatkan organ lain dari kerusakan permanen.”

Melihat kompleksitas penyebab dan dampak mata kering, terutama yang terkait dengan gangguan sistemik seperti autoimun, penanganannya jelas memerlukan lebih dari sekadar solusi pereda sementara.

Dokter Penyakit Dalam, JEC Eye Hospitals and Clinics, DR. Dr. Laurentius Aswin Pramono, M.Epid, SpPD-KEMD pada saat JEC Eye Talks: Dry Eye Awareness Month – Mata Kering: Alarm Autoimun? Kenali, Deteksi, dan Tangani Sejak Dini, di Jakarta (16/7). Dr. Aswin mengingatkan bahwa gejala awal penyakit autoimun sering kali muncul dalam bentuk yang tidak spesifik termasuk mata kering yang seringkali disepelekan. Penanganan mata kering akibat autoimun menurutnya memerlukan kolaborasi multidisiplin antara dokter mata dan dokter penyakit dalam untuk bisa mengenali pola-pola peradangan sistemik sejak dini.

Dibutuhkan pendekatan menyeluruh yang tidak hanya mengatasi gejala, tetapi juga menggali dan memahami kondisi mendasar yang menyebabkannya. Di sinilah pentingnya layanan dengan teknologi diagnostik yang akurat, tim medis berpengalaman, serta kolaborasi multidisiplin antara dokter mata, penyakit dalam, dan reumatologi untuk memastikan pasien dengan dry eye akibat autoimun mendapatkan penanganan yang tepat, menyeluruh, dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari komitmen untuk mengoptimalisasi penglihatan dan kualitas hidup masyarakat, JEC Eye Hospitals and Clinics telah menghadirkan JEC Dry Eye Service sejak 2017; menjadi pionir layanan terpadu pertama di Indonesia yang menangani mata kering secara komprehensif.

Layanan ini menawarkan beragam pemeriksaan berteknologi mutakhir untuk mendiagnosis dry eye pasien; meliputi: Dry Eye Questionnaire, Schirmer Test (menilai volume air mata), Tear Break Up Time/TBUT (menilai stabilitas air mata), Ocular Surface Staining (menilai derajat peradangan), Meibography (menilai kondisi kelenjar Meibom di kelopak mata), dan TearLab® Osmometer (menilai kadar osmolaritas air mata).

Berdasarkan pemeriksaan tersebut, tim ahli JEC Dry Service akan memberikan penanganan yang sesuai. Mulai dari artificial tears substitute/lubricants, punctal plug, pemberian anti-inflamasi dan antibiotik tetes mata, pemberian autologous serum tetes mata, terapi E-eye® Intense Pulse Light (IPL) dan Dry Eye Spa. Saat ini, Dry Eye Service tersedia di lima rumah sakit dan klinik mata JEC di berbagai kota besar Rumah Sakit Mata JEC @ Kedoya, Rumah Sakit Mata JEC CANDI @ Semarang, RS Mata JEC ORBITA @ Makassar, Klinik Utama Mata JEC BALI @ Denpasar, Klinik Utama Mata JEC JAVA @ Surabaya

Tentang JEC
Dengan pengalaman 41 tahun sejak berdiri pada 1984, kiprah JEC dalam memberikan layanannya diakui dalam berbagai bentuk penghargaan prestasi, antara lain: Akreditasi dari Joint Commission International yang diraih empat kali berturut-turut oleh JEC @ Kedoya pada 2014, 2017, 2020 dan 2023; penobatan “JEC LASIK Center” sebagai Pionir LASIK pertama di Indonesia oleh MURI (2007).

Akreditasi Penuh Tingkat Paripurna dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; serta pemberian penghargaan “Indonesia Healthcare Most Reputable Brand 2014 dan 2015” untuk kategori rumah sakit mata di Jabodetabek dan 7 kota besar di Indonesia dari Majalah SWA dan pemenang the Best Corporate Image 2015-2019. JEC menjadi pelopor dalam pembentukan ASEAN Association of Eye Hospital (AAEH) – dan kini menjadi anggota aktifnya, di samping berperan dalam World Association of Eye Hospital. JEC hingga saat ini telah memiliki 5 rumah sakit mata serta 11 klinik utama mata yang tersebar di beberapa kota besar, yaitu Rumah Sakit Mata JEC @ Menteng, Rumah Sakit Mata JEC @ Kedoya, Rumah Sakit Mata JEC Primasana @ Tanjung Priok, Rumah Sakit Mata JEC CANDI @ Semarang dan RS Mata JEC ORBITA @ Makassar, Klinik Utama Mata JEC @ Cibubur, JEC @ Tambora, JEC @ Cinere, JEC @Bekasi, Candi Eye Center Semarang, JEC ANWARI @Purwokerto, JEC JAVA @ Surabaya, JEC ORBITA @ Makassar, JEC BALI @ Denpasar, JEC JAVA @ Pasuruan, dan JEC ORBITA @ Kendari. Informasi selengkapnya silakan kunjungi www.jec.co.id. (*)

Update