batampos – Startup teknologi Perplexity AI, yang mendapat dukungan dari CEO Nvidia Jensen Huang dan pendiri Amazon Jeff Bezos, resmi memperkenalkan Comet, sebuah peramban web cerdas berbasis kecerdasan buatan (AI). Kehadiran Comet disebut-sebut sebagai upaya serius menantang dominasi Google Chrome milik Alphabet Inc., yang saat ini mendominasi pasar global.
Tidak seperti peramban konvensional, Comet menggunakan sistem agentic AI, yaitu teknologi yang mampu berpikir, membuat keputusan, dan bertindak atas nama pengguna. Dengan pendekatan ini, pengguna tidak lagi harus melakukan navigasi secara manual, karena AI dalam Comet mampu menangani berbagai perintah secara otomatis.
Akses Terbatas untuk Pengguna Premium
Menurut laporan dari AFP, Comet saat ini hanya tersedia bagi pelanggan Perplexity Max, yaitu pengguna berbayar dengan tarif langganan sebesar USD 200 atau sekitar Rp3,24 juta per bulan. Namun, akses untuk khalayak yang lebih luas dijadwalkan akan dibuka secara bertahap melalui sistem undangan sepanjang musim panas 2025.
Dengan integrasi asisten AI internal, Comet memungkinkan pengguna melakukan berbagai aktivitas seperti bertanya, membandingkan produk, merangkum konten, menjadwalkan pertemuan, hingga menyelesaikan tugas kompleks melalui antarmuka percakapan yang intuitif. Hal ini membuat Comet bukan sekadar peramban biasa, melainkan juga alat bantu kerja dan produktivitas berbasis AI.
“Comet dirancang untuk sepenuhnya menggantikan pengalaman menjelajah web konvensional dengan pendekatan yang lebih cerdas dan responsif,” kata juru bicara Perplexity dalam siaran pers. Ia menambahkan, “Kami yakin pengguna masa kini menginginkan sistem yang dapat berpikir dan bertindak secara otomatis untuk mereka.”
Privasi Jadi Prioritas
Berbeda dari kebanyakan browser modern, Comet mengusung prinsip privasi yang kuat. Perplexity menegaskan bahwa data pengguna disimpan secara lokal dan tidak digunakan untuk melatih model AI milik mereka. Pendekatan ini menjadi pembeda utama dari browser lain yang cenderung mengandalkan data pengguna dalam proses pengembangan.
Sebagai perbandingan, berdasarkan laporan StatCounter per Juni 2025, Google Chrome menguasai 68% pasar global browser, jauh meninggalkan pesaingnya seperti Safari, Microsoft Edge, dan Firefox. Melalui peluncuran Comet, Perplexity dinilai berpotensi menggeser lanskap industri peramban di tengah maraknya penggunaan teknologi AI. (*)
