
batampos – Setiap orang, pada titik tertentu, pernah larut dalam pikirannya sendiri. Kita terjebak dalam pertanyaan “bagaimana jika” dan terus mengulang-ulang kesalahan masa lalu di kepala.
Ini bukan hal yang asing. Faktanya, riset menyatakan bahwa lebih dari separuh populasi mengalami overthinking secara berlebihan, angka yang menunjukkan bahwa kebiasaan ini jauh lebih umum dari yang kita kira.
Meski tampak seperti hal sepele, terlalu banyak berpikir bisa menguras energi mental dan mempengaruhi kesejahteraan kita secara keseluruhan.
Menyadari bahwa kita tidak sendiri dalam hal ini dapat menjadi langkah awal mengelola pikiran dengan lebih sehat.
Melansir Truity, berikut ini tanda-tanda orang overthinking terhadap hal yang terjadi dalam kehidupannya dan bisa membuat kesehatannya terganggu.
1. Pikiran menyimpan hal-hal yang tidak perlu
Berpikir berlebihan tak selalu tampak negatif di awal. Kadang, ia hadir dalam bentuk yang tampaknya produktif seperti menyusun daftar tugas di kepala. Tapi jika kamu terus-menerus membuat ulang daftar itu atau memikirkannya berulang-ulang tanpa henti, itu bisa jadi tanda bahwa pikiranmu sedang terlalu sibuk.
Alih-alih membantu, kebiasaan ini justru mampu menguras energi mental. Apabila kamu merasa terjebak dalam pola ini, mungkin sudah waktunya memberi ruang bagi diri sendiri rehat sejenak entah lewat aktivitas ringan, bergerak, atau sekadar menarik napas dalam-dalam. Mengalihkan perhatian secara sehat dapat membantu meredakan beban pikiran yang terus berputar.
2. Sangat kritis dengan orang lain
Jika kamu sering merasa terganggu oleh hal-hal kecil dan cenderung terlalu kritis, berhati-hatilah. Ini bisa menjadi bentuk overthinking yang tak disadari, dan berpotensi memicu konflik atau menyakiti perasaan orang lain. Sikap ini sering muncul dari rasa tidak aman upaya merasa lebih unggul dengan mencari celah pada orang lain. Pola pikir seperti ini dapat tumbuh menjadi pengganggu internal yang merusak hubungan dan suasana hati.
Saat mulai merasa terjebak dalam pikiran negatif, cobalah mengalihkan fokus ke hal yang lebih besar dan menginspirasi, yakni berjalan di alam, merenung, atau bahkan menyelami luasnya alam semesta. Hal-hal ini bisa membantu meredakan sinisme dan menggantinya dengan perspektif yang lebih positif dan memberdayakan.
3. Terlalu berlebihan menyenangkan orang lain
Mungkin terdengar mengejutkan, namun kebiasaan menyenangkan orang lain bisa menjadi bentuk lain dari overthinking. Ketika kamu terus-menerus berusaha membuat semua orang bahagia bahkan hanya satu orang pikiranmu bisa jadi terlalu sibuk hingga kehilangan arah. Lama-lama, kamu mungkin sulit membedakan mana keinginan sendiri dan mana yang datang dari tekanan luar. Ini bisa mengaburkan jati diri dan membuatmu merasa lelah secara emosional.
Langkah awal keluar dari kebingungan ini adalah dengan kembali pada diri sendiri. Dengarkan intuisimu, dan lepaskan ekspektasi orang lain yang tidak perlu ditanggung. Ingat, perhatian dan pengertian yang diberikan pada orang lain juga layak diarahkan pada diri sendiri. Tidak apa-apa untuk tetap percaya pada idemu, bahkan apabila tidak semua orang setuju.
4. Pikiranmu merugikan diri sendiri
Berpikir berlebihan tak selalu soal rencana atau kekhawatiran kadang juga muncul sebagai dialog negatif dengan diri sendiri. Saat stres, kita bisa mulai mempertanyakan nilai-nilai pribadi atau terjebak dalam bayangan ideal yang tak realistis tentang bagaimana hidup seharusnya berjalan. Di momen seperti ini, penting untuk tidak mengurung diri.
Saat kamu terlalu lama menyendiri, pikiran negatif bisa terdengar semakin keras dan meyakinkan. Sebaliknya, beri dirimu waktu beristirahat, lalu cari teman atau orang tepercaya yang dapat menjadi cermin yang lebih objektif. Seseorang yang benar-benar mengenalmu bisa membantu membalik sudut pandang, meluruskan pikiran yang keliru, dan mengingatkan bahwa dirimu tidak sendiri dalam proses ini.
5. Menjadi terlalu curiga
Merasa curiga bahwa seseorang punya niat buruk terhadap kita tentu bukan hal yang menyenangkan. Akan tetapi, ketika kekhawatiran ini berubah menjadi kebiasaan berpikir berlebihan, dampaknya mampu merusak terutama terhadap hubungan yang sedang kita jalani.
Terjebak dalam kewaspadaan terus-menerus sangat melelahkan, baik secara emosional maupun mental. Kita jadi mudah menilai orang lain secara negatif, bahkan ketika niat mereka sebenarnya baik. Contohnya, saat seseorang memberi peringatan atas risiko tertentu, kita mungkin menganggap mereka sedang menghalangi, bukan peduli.
6. Khawatir tentang hasil di masa depan
Kekhawatiran tentang masa depan adalah hal yang manusiawi. Tapi apabila terus dibiarkan, kecemasan ini bisa mencuri ketenangan yang seharusnya dirasakan hari ini. Ironisnya, saat masa depan itu tiba, kamu mungkin hanya akan beralih mengkhawatirkan hal berikutnya. Dalam kondisi stres, banyak orang terjebak dalam pikiran-pikiran negatif mengenai apa yang mungkin salah.
Mereka takut perubahan akan mengguncang kestabilan batin yang telah dibangun. Dalam mengatasi hal ini, cobalah praktik meditasi atau ulangi mantra singkat yang menenangkan. Fokus pada kata-kata tersebut bisa membantu menenangkan pikiran, menarikmu kembali ke momen saat ini, dan mengurangi beban dari kekhawatiran yang belum tentu terjadi.
7. Tidak mampu membuat keputusan
Berpikir berlebihan bisa terasa seperti terus membuka pintu-pintu kemungkinan tanpa pernah menutup satu pun. Ini sering membuat kita terjebak bukan sebab kurang ide, tapi karena sulit memilih satu arah. Memang, overthinking kadang memicu kreativitas dan ide-ide segar. Namun ketika stres, hal ini justru bisa berubah jadi kebingungan, terutama saat harus mengambil keputusan yang berhubungan dengan dunia luar.
Jika kamu terus terpaku pada semua opsi dan takut membuat pilihan yang salah, ingatlah bahwa keputusan tidak perlu sempurna. Fokuslah menyederhanakan pilihan. Bahkan apabila kamu hanya menyisakan dua atau tiga opsi, besar kemungkinan semuanya baik. Keputusan yang baik meski tidak sempurna sering kali sudah cukup untuk membawamu maju.
8. Terlalu fokus pada satu hal
Ketika stres, kita cenderung terjebak dalam satu gagasan, mencoba memahami makna tersembunyi di baliknya dan akhirnya mengabaikan hal lain di sekitar kita. Daripada terus membiarkannya berputar di kepala, cobalah menuangkannya ke dalam tulisan. Tulis semua yang dirasakan, lalu biarkan sejenak.
Lihat kembali esok hari, setelah tidur yang cukup. Sering kali, jarak dan waktu memberi kita perspektif baru. Menulis jurnal bisa jadi alat refleksi yang kuat. Ia membantumu untuk mengenali pola, emosi, dan dorongan batin yang tersembunyi di balik pikiran tersebut dan dari situlah jalan keluar biasanya mulai terlihat. (*)
