Jumat, 30 Januari 2026

8 Perilaku Sopan Ini Justru Bisa Membuat Dianggap Lemah Menurut Psikologi

Berita Terkait

Perilaku sopan Anda bisa membuat dianggap lemah. (Foto: freepik/teksomolika)

batampos – Niat untuk menjadi individu yang baik dan sopan seringkali berhadapan dengan persepsi orang lain yang keliru.

Ada batas tipis antara bersikap baik hati dengan menunjukkan kelemahan yang dapat dieksploitasi oleh orang lain.

Beberapa perilaku yang tampak santun justru memunculkan kesan mudah ditargetkan atau kurang percaya diri.

Psikologi sosial menyebutkan bahwa perilaku seperti ini dapat mengurangi rasa hormat orang lain terhadap kita, dilansir dari Jawapos.com, Selasa (11/11).

Mengenali pola ini adalah langkah pertama untuk menyeimbangkan kebaikan dan ketegasan dalam interaksi sosial.

Delapan cara bersikap sopan berikut justru berpotensi membuat Anda terlihat lemah di mata orang lain.

1. Selalu Mengalah Meski Dirugikan

Sikap tahu kapan harus mengalah memang bijak, tetapi terus mengalah padahal diri sendiri dirugikan dapat menjadi bumerang.

Anda akan dianggap sebagai target mudah yang siap dimanfaatkan oleh orang lain. Fenomena ini dikenal sebagai self-silencing, menekan suara diri demi keharmonisan.

2. Tidak Pernah Berani Mengutarakan Pendapat

Bersikap tenang dan menjadi pendengar yang baik memang wajib, namun selalu mengiyakan pendapat orang lain akan bermasalah.

Lama-kelamaan, orang lain akan melihat Anda sebagai pribadi yang tidak memiliki pendirian.

Menurut assertiveness theory, orang yang tidak menyuarakan pendapat dianggap mudah dikendalikan.

3. Menghindari Konflik Apa pun

Konflik pada dasarnya adalah proses alami yang dapat membantu menemukan solusi atau titik tengah dalam sebuah permasalahan.

Individu yang terlalu takut dan menghindari konflik, bahkan ketika ia dirugikan, akan dianggap tidak punya keberanian.

Mereka sering kali menerima perlakuan tidak adil karena tidak pernah berani mempertahankan haknya.

4. Terlalu Banyak Meminta Maaf

Mengucapkan maaf adalah bentuk sopan santun yang penting, tetapi terlalu sering meminta maaf untuk hal yang bukan kesalahan sendiri menunjukkan masalah.

Tindakan ini bisa dilihat sebagai tanda rendah diri atau rasa bersalah yang berlebihan. Studi psikologi sosial menemukan bahwa over-apologizing dapat mengurangi persepsi kompetensi seseorang.

5. Selalu Berusaha Menyenangkan Semua Orang

Menjadi orang yang selalu menyanggupi semua permintaan, bahkan jika itu melampaui kemampuan, dikenal sebagai perilaku people-pleasing.

Sekilas, tindakan ini tampak baik, tetapi pada akhirnya justru membuat Anda tidak dihargai.

Orang lain akan menganggap Anda tidak sanggup menolak, sehingga mudah untuk diperintah.

6. Tidak Menetapkan Batasan Pribadi yang Jelas

Batas pribadi yang kabur membuat orang lain merasa berhak untuk mengganggu waktu atau ruang pribadi Anda.

Seseorang yang sangat sopan sering kali sulit berkata “tidak” pada tuntutan yang melanggar batas dirinya. Ini membuka peluang bagi orang lain untuk memanfaatkan kebaikan Anda.

7. Mencari Validasi dari Semua Orang

Sikap selalu mencari pengakuan atau persetujuan dari setiap orang dapat membuat Anda terlihat kurang yakin pada diri sendiri.

Sikap baik yang muncul dari kebutuhan akan validasi bukan berasal dari ketulusan justru terkesan lemah. Hal ini membuat orang lain meragukan kemandirian dan kepemimpinan Anda.

8. Terlalu Merendah dan Menganggap Remeh Pencapaian Diri

Sikap rendah hati memang terpuji, tetapi terlalu meremehkan pencapaian Anda sendiri dapat menjadi masalah.

Ketika Anda selalu bersikeras bahwa keberhasilan Anda hanyalah kebetulan, orang lain akan ikut-ikutan tidak menganggap serius kesuksesan tersebut.

Kerendahan hati yang berlebihan justru dapat mengurangi kepercayaan diri.

Menyeimbangkan kebaikan hati dengan ketegasan yang sehat sangat penting untuk menjaga integritas diri.

Orang yang kuat adalah mereka yang mampu bersikap baik, namun juga tahu kapan harus menetapkan batas dan berdiri teguh pada pendirian.

Jangan biarkan kesopanan Anda justru menjadi kelemahan yang merugikan di mata orang lain.

Kita perlu belajar menyuarakan kebutuhan dan mempertahankan batasan pribadi tanpa perlu merasa bersalah. Kebaikan sejati datang dari rasa percaya diri dan kekuatan internal, bukan dari kebutuhan untuk menyenangkan setiap orang. (*)

Update