
batampos – Menjadi pribadi yang disukai orang lain tidak hanya ditentukan oleh penampilan atau kepiawaian berbicara. Cara berkomunikasi dan membangun koneksi emosional justru memiliki peran besar dalam membentuk kesan positif di mata orang lain.
Dikutip dari laman Global English Editing, Minggu (10/1), psikologi menjelaskan bahwa kebiasaan berbicara tertentu mampu menciptakan kesan menyenangkan secara instan.
Dengan sedikit penyesuaian dalam cara berkomunikasi, seseorang dapat terlihat lebih hangat, ramah, dan mudah diterima dalam berbagai situasi sosial.
Sejumlah penelitian psikologi menyebutkan setidaknya ada delapan kebiasaan berbicara yang secara tidak langsung membuat seseorang lebih disukai oleh orang di sekitarnya.
Kebiasaan pertama adalah meniru secara halus atau mirroring. Menyesuaikan bahasa tubuh, nada bicara, atau gaya komunikasi lawan bicara secara alami dapat menciptakan rasa kesamaan. Tanpa disadari, hal ini membuat orang lain merasa lebih nyaman dan mudah membangun kepercayaan.
Kebiasaan berikutnya adalah mendengarkan secara aktif dan empatik. Bukan sekadar mendengar, tetapi benar-benar hadir dalam percakapan, menjaga kontak mata, mengangguk, serta merespons dengan pertanyaan yang relevan. Sikap ini membuat lawan bicara merasa dihargai dan dipahami.
Menjaga nuansa positif juga menjadi faktor penting. Penggunaan kata-kata yang optimistis, humor ringan, serta nada bicara yang hangat dapat memicu perasaan nyaman dan bahagia, sehingga orang lain merasa betah berbincang.
Selain itu, menunjukkan ketertarikan tulus pada orang lain turut memengaruhi kedekatan emosional. Mengajukan pertanyaan yang relevan dan penuh minat menandakan kepedulian, bukan sekadar keinginan untuk mendominasi percakapan.
Kebiasaan selanjutnya adalah menunjukkan empati. Mengakui perasaan orang lain dan memvalidasi pengalaman yang mereka alami mampu memperkuat ikatan emosional serta menumbuhkan rasa aman dalam berkomunikasi.
Bersikap terbuka dan autentik juga dinilai membuat seseorang lebih disukai. Kejujuran dalam menyampaikan pikiran dan perasaan tanpa berpura-pura menciptakan kesan tulus yang mudah diterima.
Penggunaan nama lawan bicara dalam percakapan menjadi kebiasaan lain yang berdampak positif. Menyebut nama memberikan sentuhan personal dan membuat seseorang merasa diperhatikan.
Terakhir, hadir sepenuhnya dalam percakapan tanpa terdistraksi oleh gawai atau hal lain merupakan bentuk penghormatan tertinggi dalam komunikasi. Fokus penuh membuat interaksi terasa lebih bermakna dan hangat. (*)
