Senin, 26 Januari 2026

7 Cara Lengkap Memperbaiki Hubungan yang Retak Tanpa Harus Melupakan Luka Lama

Berita Terkait

Batampos – Berdamai atau melakukan perdamaian, bukan berarti kita berpura-pura masalah di antara kita tidak pernah terjadi. Namun, begitulah cara membangun kembali hubungan dengan kejujuran, batasan yang sehat, dan sedikit belas kasih untuk diri sendiri.

ILUSTRASI rekonsiliasi memperbaiki hubungan yang retak. F IStock

Di penghujung 2025 ini, dengan melihat segala sesuatu yang terjadi sepanjang 12 bulan berjalan, membuat kita lebih reflektif dan lebih ingin berdamai dari biasanya. Mungkin egomu selama ini terasa seperti batu besar yang menggantung di lehermu. Kamu lelah memikul luka, frustrasi, dan kesedihan sepanjang tahun. Lalu, kamu ingin melepaskannya. Kamu ingin pulang kepada dirimu yang damai, yang benar-benar dirimu.

“Ketika segalanya melambat dan kita mundur sejenak dari kesibukan, kita biasanya mulai memikirkan apa yang benar-benar penting atau membebani kita,” ujar Psikolog Klinis dari Annabelle Psychology, Dr Annabelle Chow seperti dikutip dari Channel News Asia.

Chow menyebutkan, saat berpikir itu, pikiran seseorang bisa membawanya ke hubungan yang renggang, percakapan yang belum selesai, janji yang tidak ditepati, atau sesuatu yang selalu ingin diperbaiki.

Secara psikologis, Serene Lee, psikoterapis dan pendiri pusat konseling ICCT di Singapura mengatakan, masa ini merupakan titik pemeriksaan alami. “Anggap saja seperti ponselmu yang meminta update software. Tahun hampir berakhir, dan ada tekanan kolektif untuk memulai tahun baru dengan lembaran bersih,” ungkapnya.

Bagi sebagian orang, pemicu rekonsiliasi bisa berupa kondisi kesehatan, kehilangan orang tersayang, atau sebuah tonggak hidup.

“Momen-momen itu mengingatkan mereka bahwa waktu itu singkat dan hubungan itu penting. Ada juga yang merasa terbebani oleh jarak atau ketegangan yang berkepanjangan, dan menyadari bahwa mempertahankan dendam lebih menyakitkan daripada kerentanan untuk mengulurkan tangan kembali. Merilis emosi dari dalam diri sendiri. Membersihkannya,” ujar Chow.

Sementara Lee mengatakan, kadang, orang juga sekadar lelah. “Panasnya pertengkaran sudah hilang, yang tersisa hanya gumpalan dingin dari kesunyian. Setelah lima tahun, kamu bahkan mungkin tidak ingat lagi kenapa kamu berhenti bicara dengan ayahmu tapi kamu rindu candaan darinya,” ujarnya lagi.

Jika kamu ingin memperbaiki hubungan yang retak, berikut saran dari para ahli.

Apa Ego adalah Satu-satunya Penghalang untuk Minta Maaf?

Lee mengatakan, ego itu hanya judul besarnya. Kisah sesungguhnya ada di catatan kaki. Rekonsiliasi bukan hanya satu tembok, tetapi sebuah arena rintangan yang bisa mencakup:

  • Ketakutan ditolak atau terluka
    “Ini seperti menyentuh kompor panas; setelah terbakar, kamu takut mendekat lagi. Banyak orang memilih bertahan dengan rasa sakit yang sudah dikenal daripada mengambil risiko luka baru,” ujar Lee.
  • Trauma yang belum selesai dan kurangnya kepercayaan:
    Saat kamu membuat daftar mental semua kesalahan orang lain, lalu berharap mereka ‘move on’, itu hanya meremehkan perasaan mereka.
  • Asumsi negatif tentang orang lain:
    Misalnya pikiran seperti, “Mereka tidak peduli” atau “Cuma aku yang berusaha.” Ini membuat rekonsiliasi semakin sulit.
  • Penyebab konflik:
    Pertengkaran sekali tentang politik lebih mudah diperbaiki dibanding pola pengkhianatan panjang seperti penipuan finansial atau ketidakandalan kronis. “Yang satu percikan, yang lain api yang membara.”
  • Kedalaman pengkhianatan:
    Kasus kekerasan atau pelanggaran batas berat membutuhkan waktu, kejelasan, dan rasa aman sebelum memikirkan rekonsiliasi.
  • Durasi jarak:
    Semakin lama diam, semakin ‘berkarat’ pintunya.

Haruskah Memaafkan dan Melupakan untuk Berdamai?

“Ini mitos besar! Konsep yang indah, tetapi tidak realistis. Kamu tidak harus melupakan atau memaafkan untuk berdamai,” tegas Lee.

Rekonsiliasi adalah mengakui luka sambil membuka diri untuk terhubung kembali. “Bayangkan bukan menghapus papan tulis, tetapi membuat file baru di komputer. File lama masih ada, tapi kalian memilih bekerja pada dokumen baru.

Dr Chow menambahkan:

  • Kamu bisa memaafkan tanpa melanjutkan hubungan.
  • Kamu juga bisa berdamai tanpa sepenuhnya memaafkan, selama kedua pihak mau membangun kembali kepercayaan perlahan.

Jika sulit memaafkan, mulailah dengan memahami apa yang menyakitimu. Apa yang terjadi pada pihak lain, dan apa yang kamu butuhkan agar merasa aman. Belas kasih pada diri sendiri dan orang lain membuka pintu perlahan.

Bagaimana Cara Memulai Kontak?

Pesan singkat biasanya paling aman, kata Dr Chow. Beri ruang bagi mereka untuk memproses.

Jaga agar sederhana:
“Hi, aku sudah memikirkanmu dan berharap kamu baik-baik saja.”
Atau: “Tidak perlu membalas. Aku hanya ingin kamu tahu aku masih peduli.”

Jangan langsung minta maaf panjang atau menjelaskan semuanya.
Jika mereka tidak membalas, itu juga jawaban dan terkadang, itulah bentuk damai yang perlu diterima.

Haruskah Bertemu Langsung?

Jika aman secara fisik maupun emosional, pertemuan langsung adalah cara terbaik untuk terhubung. Wajah, suara, dan bahasa tubuh mengurangi salah paham.

Pilih tempat netral dan tenang, seperti kafe atau taman. Bila perlu, hadirkan teman terpercaya sebagai penengah. Namun, jika pertemuan justru memicu emosi negatif yang kuat, mulailah dengan panggilan telepon atau video sebelum bertemu langsung.

Apa yang Bisa Dikatakan Saat Bertemu?

Kesederhanaan lebih kuat daripada permintaan maaf panjang.

  • Fokus pada tanggung jawab diri, bukan menyalahkan.
  • Gunakan kalimat “aku”.

Contoh:
Aku menyadari saat itu aku sedang tertekan dan tidak menangani situasi dengan baik. Aku melihat bagaimana itu menyakitimu, dan aku menyesal.Kejujuran seperti itu mengundang pemahaman, bukan defensif.

Apa yang Harus Dihindari?

Satu kata ini harus dihindari: “tapi”.
Itu menghapus permintaan maaf dan memulai perdebatan baru.

Juga hindari:
• Mengungkit kesalahan lama
• Bertahan defensif
• Meremehkan perasaan mereka
• Bermain sebagai korban
• Janji besar yang tidak realistis (“Aku tidak akan pernah salah lagi”)

Lebih baik janji kecil yang bisa dilakukan:
“Aku akan berusaha mendengarkan tanpa memotong.”

Setelah Bertemu, Apa Berikutnya?

Jika pertemuan berjalan baik, jangan terburu-buru. Bangun perlahan. Kirim pesan sederhana sebagai ucapan terima kasih.
Bangun kepercayaan lewat konsistensi dan tindakan kecil.

Jika hasilnya buruk, beri waktu untuk memproses.
Kadang kedamaian datang bukan dari rekonsiliasi, tetapi dari knowing you tried.

Berpindahlah dari “berdamai dengan mereka” ke “berdamai dengan dirimu sendiri”.

Jika kamu tidak bisa mendapat penutup dari merekaciptakan penutupmu sendiri, seperti:
• Menulis surat yang tidak dikirim
• Berteriak di bantal
• Lari jauh
• Bicara dengan terapis atau mentor

Akhiri dengan kalimat:
Dan aku memutuskan untuk tidak membawa beban ini lagi.” (*)

Reporter: CHAHAYA SIMANJUNTAK

Update