
batampos – Pernahkah Anda menerima banyak pujian, tetapi satu komentar negatif justru yang terus terngiang di kepala?
Fenomena ini sangat umum terjadi dan bukan karena Anda “terlalu sensitif” atau lemah mental. Menurut psikologi, otak manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk lebih fokus dan mengingat hal-hal negatif dibandingkan hal positif.
Ini disebut sebagai negativity bias (bias negatif), dan ia memengaruhi cara kita berpikir, merasakan, dan memaknai pengalaman hidup.
Dilansir dari Geediting pada Sabtu (14/2), terdapat 7 alasan psikologis mengapa komentar negatif jauh lebih membekas di ingatan daripada pujian:
1. Otak Manusia Diprogram untuk Bertahan Hidup, Bukan Bahagia
Secara evolusioner, otak manusia berkembang untuk mendeteksi ancaman, bukan untuk mengejar kebahagiaan. Pada masa purba, satu kesalahan kecil bisa berarti kematian: suara aneh di semak-semak bisa jadi predator, bukan angin. Karena itu, otak belajar memberi prioritas tinggi pada informasi yang berpotensi berbahaya atau mengancam.
Komentar negatif dipersepsikan otak sebagai “ancaman sosial”:
Ancaman terhadap harga diri
Ancaman terhadap status sosial
Ancaman terhadap penerimaan kelompok
Sementara pujian dianggap “aman”, komentar negatif dianggap “berisiko”, sehingga otak menyimpannya lebih kuat dalam memori.
2. Negativity Bias: Kecenderungan Alami Otak Manusia
Dalam psikologi, negativity bias adalah kecenderungan kognitif di mana:
Informasi negatif memiliki dampak emosional dan psikologis yang lebih kuat dibanding informasi positif dengan intensitas yang sama.
Artinya:
Satu kritik ≠ satu pujian
Dampak satu kritik bisa setara dengan 5–10 pujian secara emosional
Otak memproses emosi negatif lebih dalam, lebih lama, dan lebih detail. Inilah sebabnya komentar negatif:
Lebih mudah diingat
Lebih sering dipikirkan ulang
Lebih lama “tinggal” di pikiran
3. Komentar Negatif Mengaktifkan Emosi Kuat
Pujian biasanya memicu emosi positif ringan: senang, bangga, dihargai.
Komentar negatif memicu emosi yang jauh lebih intens:
Malu
Takut
Marah
Cemas
Sedih
Tidak aman
Emosi kuat → memori kuat.
Secara neurologis, emosi negatif mengaktifkan amigdala (pusat emosi) yang memperkuat penyimpanan memori di hippocampus. Akibatnya, komentar negatif “direkam” lebih tajam oleh otak.
4. Kritik Menyerang Identitas Diri, Bukan Sekadar Perilaku
Pujian sering dianggap sebagai komentar tentang hasil:
“Kerjamu bagus.”
“Presentasimu rapi.”
Sedangkan kritik sering ditafsirkan sebagai serangan terhadap identitas:
“Kamu memang nggak kompeten.”
“Kamu selalu gagal.”
“Kamu terlalu bodoh buat ini.”
Walau kalimatnya mungkin tidak sekeras itu, otak sering menerjemahkannya secara personal. Kritik terasa seperti:
Serangan terhadap nilai diri
Serangan terhadap harga diri
Serangan terhadap eksistensi sosial
Itulah sebabnya komentar negatif terasa lebih “menusuk” dan lebih sulit dilupakan.
5. Pikiran Manusia Cenderung Melakukan Overthinking Negatif
Komentar negatif jarang berhenti sebagai satu kalimat. Otak kita mengembangkannya menjadi narasi panjang:
“Mungkin dia benar…”
“Aku memang nggak cukup bagus.”
“Orang lain pasti juga berpikir begitu.”
“Aku pasti terlihat bodoh.”
Proses ini disebut rumination (perenungan obsesif).
Satu komentar kecil bisa berkembang menjadi dialog batin yang panjang dan berulang, sehingga memorinya semakin kuat.
Pujian jarang diproses sedalam ini. Biasanya hanya lewat:
“Oh, makasih.” → selesai.
6. Otak Lebih Fokus pada Kesalahan daripada Keberhasilan
Secara psikologis, manusia lebih terdorong untuk:
Memperbaiki kekurangan
Menghindari kesalahan
Mencegah kegagalan
daripada merayakan keberhasilan.
Karena itu:
Kritik dianggap sebagai “informasi penting”
Pujian dianggap sebagai “bonus emosional”
Otak memperlakukan komentar negatif sebagai data untuk bertahan hidup dan berkembang, sehingga menyimpannya lebih serius dibandingkan pujian.
7. Rasa Takut Akan Penolakan Sosial
Manusia adalah makhluk sosial. Sejak dulu, ditolak oleh kelompok = ancaman hidup. Otak kita masih membawa mekanisme ini sampai sekarang.
Komentar negatif sering diartikan sebagai sinyal:
“Aku tidak diterima”
“Aku tidak cukup layak”
“Aku bisa dikucilkan”
Ketakutan akan penolakan sosial ini membuat otak memberi perhatian ekstra pada kritik dan komentar negatif.
Kesimpulan Psikologis
Anda lebih mengingat komentar negatif bukan karena Anda lemah, baper, atau tidak bersyukur. Itu karena:
Otak manusia berevolusi untuk fokus pada ancaman
Emosi negatif diproses lebih dalam
Kritik terasa menyerang identitas diri
Pikiran manusia cenderung mengulang hal negatif
Otak memprioritaskan kesalahan daripada keberhasilan
Ketakutan sosial tertanam secara biologis
Semua ini adalah mekanisme alami otak manusia. (*)
