
batampos – Media sosial seharusnya menjadi ruang berbagi pengalaman, kreativitas, dan koneksi antarmanusia.
Namun seiring berkembangnya fitur visual dan algoritma rekomendasi, platform-platform ini justru mengubah cara otak kita memproses citra diri.
Banyak orang mulai merasa kurang menarik, merasa ‘tidak cukup’, dan terjebak dalam perbandingan tanpa akhir. Fenomena ini bukan sekadar persoalan estetika, tetapi masalah psikologis yang serius.
Secara tidak sadar, standar kecantikan digital yang terus muncul di beranda kita membentuk ulang preferensi visual.
Filter, iklan, dan konten ‘sempurna’ membuat otak kita menganggap citra tersebut sebagai referensi kecantikan yang ideal.
Ketika wajah dan tubuh asli tidak sesuai dengan standar digital itu, rasa tidak puas pun muncul dengan cepat. Inilah titik di mana media sosial mulai memengaruhi kesehatan mental.
Dilansir dari YouTube Psych2Go, Rabu (10/12), berikut lima penjelasan psikologis yang menjelaskan bagaimana media sosial membentuk persepsi kecantikan kita dan membuat banyak orang merasa jelek meski tidak ada yang salah dengan diri mereka.
1. Filter Membentuk Realitas Palsu yang Dianggap Otak sebagai Standar Baru
Psych2Go menjelaskan bahwa filter kecantikan berperan besar dalam menciptakan standar visual yang tidak realistis.
Filter membuat kulit tampak sempurna, hidung lebih kecil, mata lebih lebar, dan wajah lebih simetris—fitur yang jarang ditemui dalam kehidupan nyata.
Ketika otak terus-menerus melihat versi ‘sempurna’ ini, muncul bias kognitif yang membuat wajah asli tampak kurang menarik.
Fenomena yang disebut Snapchat dysmorphia bahkan dikaitkan oleh peneliti Boston University School of Medicine dengan body dysmorphic disorder.
Inilah awal mula seseorang merasa jelek secara psikologis, bukan karena kekurangan nyata, tetapi karena standar digital yang tidak masuk akal.
2. Iklan dan Media Menanamkan Standar Tubuh Tidak Mungkin yang Mengikis Rasa Percaya Diri
Iklan di media sosial yang menampilkan tubuh berotot ekstrim atau body goals tak realistis menjadi contoh bagaimana media membentuk standar fisik ideal.
Terpapar visual seperti ini secara berulang membuat otak bekerja dengan pola perbandingan otomatis. Studi 2009 dalam Psychology of Men and Masculinity menunjukkan bahwa lelaki yang menonton iklan semacam ini menjadi lebih tidak puas dengan tubuhnya.
Secara psikologis, efek ini disebut body comparison spiral, yaitu proses ketika seseorang terus membandingkan tubuhnya dengan figur ideal dan merasa bersalah ketika tidak mampu mencapainya.
3. Fat Shaming Mengaktifkan Rasa Takut Sosial dan Merusak Citra Diri
Psych2Go menguraikan bagaimana selebritas seperti Christina Aguilera, Adele, dan Demi Lovato menjadi sasaran shaming terkait berat badan.
Ketika media mengejek tubuh seseorang, otak penonton ikut terpengaruh melalui mekanisme social conditioning.
Studi tahun 2019 menunjukkan bahwa fat shaming dapat membentuk prasangka bawah sadar terhadap orang bertubuh gemuk.
Pada individu, hal ini memicu rasa takut dinilai buruk dan meningkatkan kecenderungan mengkritik tubuh sendiri. Pesannya jelas: standar kurus terus ditanamkan sebagai satu-satunya bentuk yang ‘layak’.
4. Colorism Memengaruhi Keyakinan Dasar tentang Nilai Diri dan Atribut Fisik
Colorism—istilah yang dicetuskan Alice Walker—masih bertahan dalam industri hiburan. Video tersebut menunjukkan bagaimana aktor berkulit lebih gelap jarang dipilih sebagai pemeran utama.
Psikolog Josephine Almansar menjelaskan bahwa bias ini merusak core belief seseorang, yaitu keyakinan terdalam tentang nilai dirinya.
Ketika otak terus melihat representasi yang condong ke arah kulit lebih terang, muncullah persepsi bahwa warna kulit tertentu lebih cantik atau indah, sehingga mereka yang berkulit lebih gelap dapat merasa tidak menarik meski tidak ada yang salah pada diri mereka.
5. Mere Exposure Effect: Paparan Berulang Membuat Otak Salah Menilai Kecantikan
Pengulangan visual memiliki efek besar pada preferensi. Konsep mere exposure effect yang ditemukan Robert Zajonc menjelaskan bahwa semakin sering otak melihat sesuatu, semakin besar kemungkinan ia menganggapnya menarik.
Ketika yang berulang adalah wajah terfilter, tubuh ideal, atau kulit tertentu, persepsi kecantikan pun terdistorsi. Namun kabar baiknya: persepsi ini dapat diputar ulang.
Dengan mengikuti akun yang menampilkan representasi realistis dan beragam, otak mulai membangun ulang preferensi yang lebih sehat dan manusiawi.
Kesimpulannya, Merasa jelek di media sosial bukanlah refleksi akurat tentang diri, tetapi hasil dari mekanisme psikologis yang dipicu oleh paparan visual yang tidak realistis.
Dengan memahami cara kerja otak dan pengaruh media, kita bisa mengambil kembali kendali atas persepsi kecantikan dan mulai menghargai keragaman serta keaslian diri sendiri. (*)
