Kamis, 12 Februari 2026

4 Sisi Kelam Menjadi Anak Pintar yang Jarang Diketahui Semua Orang

Berita Terkait

Ilustrasi stres pada anak-anak dan remaja. (Freepik)

batampos – Menjadi anak pintar sering kali dianggap sebagai anugerah. Nilai bagus, pujian guru, dan pengakuan dari keluarga membuat banyak orang berpikir bahwa hidup mereka akan selalu mulus dan penuh kesuksesan.

Namun, di balik semua prestasi itu, ada sisi gelap yang jarang diperlihatkan. Tidak semua orang menyadari bahwa label “si pintar” bisa memengaruhi cara berpikir, cara berinteraksi, bahkan kebahagiaan seseorang di masa dewasa.

Artikel ini akan mengungkap beberapa sisi kelam menjadi anak pintar yang sering tersembunyi, namun sangat berpengaruh pada kesehatan mental dan emosional mereka.

Dilansir dari laman Global English Editing pada Kamis (12/2), berikut merupakan empat sisi kelam menjadi anak pintar yang jarang diketahui banyak orang.

1. Lahirnya standar yang mustahil

Ketika seseorang sejak kecil diberi label “pintar,” secara tidak sadar mereka mulai memikul ekspektasi yang sangat tinggi dari orang-orang di sekitarnya.

Prestasi mereka bukan lagi sesuatu yang dirayakan, melainkan dianggap sebagai hal yang seharusnya.

Mendapatkan nilai A di sekolah bukan menjadi kebanggaan, melainkan kewajiban, dan melakukan sedikit saja kesalahan terasa seperti kegagalan besar.

Bahkan dalam interaksi sederhana seperti makan bersama keluarga, tidak tahu jawaban pertanyaan tertentu bisa membuat perasaan bersalah dan malu muncul.

Akibatnya, seseorang yang dulunya pendiam dan suka mengamati mulai merasa harus selalu menunjukkan opini dan jawaban di segala hal, demi mempertahankan citra “pintar” yang telah melekat sejak dini.

Tekanan ini tidak selalu diucapkan secara langsung, tetapi dirasakan setiap hari dan membentuk cara pandang mereka terhadap diri sendiri dan dunia.

2. Kepintaran menjadi satu-satunya nilai diri mereka

Menjadi anak “yang pintar” membuat seseorang belajar bahwa kecerdasan adalah satu-satunya hal yang membuatnya berharga dan dihargai oleh orang lain.

Karena itu, mereka sering menekuni belajar, membaca buku, dan mencari ilmu sebanyak mungkin.

Tidak semata-mata karena senang, tetapi juga untuk memperkuat identitas yang dianggap aman dan diterima oleh semua orang. Sayangnya, hal ini membuat sisi lain dari diri mereka sering terabaikan.

Misalnya, jika mereka sebenarnya kreatif, lucu, atau berbakat di bidang olahraga, hal-hal tersebut dianggap sekunder atau bahkan terasa menakutkan untuk dikembangkan, karena bisa membuat mereka menyimpang dari citra “si pintar.”

Akhirnya, identitas “pintar” menjadi benteng pelindung, yang sekaligus menjadi batasan untuk berkembang secara utuh.

3. Tamparan realita saat dewasa

Ketika seseorang memasuki usia dua puluhan dan tiga puluhan, tekanan menjadi orang “yang pintar” bisa terasa sangat berat.

Banyak orang dewasa dengan pengalaman ini merasa cemas, tersesat, dan tidak puas meski secara formal mereka telah meraih berbagai pencapaian.

Mereka memiliki pendidikan tinggi, prestasi akademik, dan pengetahuan luas, namun tetap merasa hidupnya hampa.

Di dunia kerja, rasa harus selalu tahu segala hal membuat mereka jarang meminta bantuan dan sulit menerima ketidakpastian.

Sindrom impostor menjadi teman yang terus hadir, di mana setiap kesalahan terasa mengancam harga diri mereka.

Hal ini juga memengaruhi hubungan pribadi, karena menjadi rentan berarti mengakui ketidaktahuan atau kelemahan, yang dirasa seperti mengkhianati citra yang selama ini dibangun.

4. Perfeksionisme

Perfeksionisme menjadi ciri khas anak pintar. Ketika nilai diri selalu dikaitkan dengan benar, menjadi yang terbaik, dan memiliki jawaban untuk segala pertanyaan, setiap hal yang kurang sempurna akan dianggap sebagai kegagalan.

Akibatnya, mereka mengembangkan kebiasaan berpikir terlalu jauh, berusaha membuat segala sesuatu sempurna mulai dari percakapan, hingga setiap keputusan penting yang diambil.

Energi mental yang dibutuhkan untuk ini sangatlah besar dan melelahkan, tetapi sulit dihentikan karena itu adalah pola yang mereka kenal sepanjang hidup.

Sering kali, dorongan untuk sempurna ini bukanlah tentang mengejar keunggulan atau prestasi sejati, tetapi lebih karena rasa takut untuk kehilangan identitas yang telah melekat selama ini.(*)

ReporterJPGroup

Update